Kece People, di tengah tingginya kasus Tuberculosis atau TBC pada anak di Indonesia, para orangtua kini dituntut lebih peka mengenali gejalanya sejak dini. Penyakit yang sering dianggap sekadar batuk biasa ini ternyata menempatkan Indonesia di peringkat kedua dunia untuk kasus TBC anak. Kondisi itu jelas jadi alarm serius, apalagi masih banyak keluarga yang belum memahami pentingnya pencegahan, vaksin BCG, hingga pemeriksaan dini saat anak mengalami gejala mencurigakan.
Padahal, TBC bukan penyakit yang datang tiba-tiba. Ia bisa masuk diam-diam, berkembang perlahan, lalu menyerang tubuh anak ketika daya tahan sedang turun. Yang bikin ngeri lagi, penyakit ini bukan cuma menyerang paru-paru. Dalam kondisi tertentu, TBC bahkan bisa menyebar ke otak, tulang, hingga menyebabkan perubahan bentuk tulang belakang.
Mengutip dari wawancara Doodle Exclusive Baby Care bersama dr. Mervin Tri Hadianto, Sp.A menjelaskan bahwa penularan TBC berasal dari kuman mycobacterium tuberculosis yang menyebar lewat udara. Saat penderita batuk atau berbicara, percikan kecil di udara bisa terhirup orang lain, termasuk anak-anak yang sistem imunnya masih rentan.
Menurutnya, keseimbangan antara imunitas anak dan jumlah jahatnya kuman mana yang lebih menang. Beberapa anak hanya 10% anak yang menjadi sakit TBC. Kuman yang masuk ke alveoli anak dihancurkan secara alami karena anak memiliki innate imunity.
“Innate Imunity ini adalah imunitas yang bawaan dari anak, sudah terbentuk. Pada anak yang sudah vaksin BCG pada usia 0 hingga 2 bulan, untuk itu disarankan harus segera vaksin setelah lahir sebelum bayi berusia 1 bulan. Hal ini dilakukan untuk memperkuat sistem imunitas seluler yang spesifik jadi kalau ada kuman TBC meski infeksi tidak akan mengalami TBC yang berat. Jika kuman mati semua, anak akan sehat,” terang dokter Mervin.
Artinya, Kece People, vaksin BCG bukan sekadar formalitas imunisasi bayi. Vaksin ini jadi benteng awal agar anak tidak mengalami TBC berat ketika terpapar kuman.
Namun, tidak semua anak yang terpapar langsung sakit. Ada kondisi yang disebut TBC laten. Di fase ini, kuman sebenarnya sudah masuk ke tubuh, tapi masih “tidur” karena sistem imun anak masih mampu menahan penyebaran.
Masalahnya, ketika daya tahan tubuh menurun, kuman itu bisa kembali aktif dan menyerang bagian tubuh lain.
Selain itu, lelaki yang merupakan Alumni Universitas Dipenogoro Semarang ini juga menerangkan bahwa ada juga anak yang saat mengalami penularan kuman TB dalam kondisi sistem seimbang, dimana kuman dan imunitas berada ditengah-tengah dinamakan TBC Laten.
“TBC laten sewaktu-waktu saat imunitas yang turun bisa muncul Kembali menjadi sakit TBC dan menyebar kemana-mana bisa lewat limfe. Bisa juga ke TBC otak, TBC tulang, akan mengalami perubahan tulang punggung yang menyebabkan bungkuk. Penyebaran TBC ini, tergantung pada sistem anak. TBC bukan penyakit yang langsung mendadak, bisa jadi secara perlahan,” jelasnya.
Karena berkembang perlahan, banyak orangtua sering terlambat sadar. Anak terlihat aktif, makan lahap, tapi berat badannya sulit naik. Kadang cuma demam ringan di malam hari, atau batuk lama yang tidak sembuh-sembuh walau sudah minum obat.
Nah, menurut dr. Mervin, tanda-tanda ini jangan dianggap angin lalu.
“Penderita TBC memiliki gejala biasanya berat badan anak tidak naik-naik walaupun nafsu makannya banyak, ada demam malam hari selama 2 minggu atau lebih, batuk 2 minggu atau lebih yang sudah intens diobatin tidak mempan. Batuknya bukan karena asma, alergi atapun ISPA. Dokter menyarankan untuk melakukan Test Mantoux lebih akurat dari rontgen. Bisa juga melakukan Test Cepat Molekuler (TCM) diakui paling bagus, tetapi anak biasanya tidak bisa mengeluarkan dahak. Bahkan saat ini test TCM ada beberapa rumah sakit yang menggratiskan,” jelasnya dikutip dari Doodle Exclusive Baby Care.
Kece People, penularan TBC sendiri biasanya terjadi lewat kontak erat dalam waktu lama. Jadi bukan sekadar papasan atau ketemu sebentar. Anak yang tinggal serumah atau sering berinteraksi dengan penderita TBC memiliki risiko jauh lebih tinggi tertular.
Karena itu, screening keluarga jadi penting banget. Apalagi jika ada anggota keluarga yang mengalami batuk lama tetapi tidak kunjung diperiksa.
Dokter biasanya akan melakukan sistem scoring untuk menentukan kemungkinan TBC pada anak. Mulai dari riwayat kontak dengan penderita, hasil rontgen, tes Mantoux, status gizi, pembesaran kelenjar, hingga batuk dan demam berkepanjangan.
Kemudian akan dihitung lagi melihat dari kecurigaan orang tua akan penyakit TBC menentukan hasilnya. Sistem scoring ini memudahkan untuk dokter atau orangtua sendiri bisa untuk menjadi acuan. Test Igra dan test darah dilakukan test Mantoux positif akibat dari imunisasi BCG yang masih ada ditubuh anak.
“Biasanya adanya vaksin BCG memunculkan reaksi positif penyakit TB saat test Mantoux. Padahal gejala TBnya belum nyata, untuk itu perlu test lanjutan seperti test igra,” ungkapnya.
Kabar baiknya, TBC pada anak umumnya bisa sembuh total asal pengobatan dijalani sampai tuntas. Tapi di sinilah tantangan terbesarnya. Banyak pasien berhenti minum obat karena merasa sudah sehat. Padahal, kuman bisa saja belum benar-benar mati.
Akibatnya, muncul TBC resistan obat yang jauh lebih sulit ditangani.
“Yang membuat penyakit TB resisten obat adalah karena ketularan dari TB orang dewasa yang resistan. TB resisten obat bisa dipengaruhi TB yang pengobatan tidak tuntas, pengobatan tidak teratur, sering lupa-lupa minum obat, tidak menyeselesaikan pengobatannya. Biasanya orangnya sudah ada kuman TB resistan obat. Bukan karena salah obat, tetapi karena obatnya yang tidak mempan,”tandasnya dikutip dari Doodle Exclusive Baby Care.
Pengobatan TBC sendiri harus disiplin. Obat diminum saat perut kosong, ditambah nutrisi yang baik dan vitamin D untuk membantu daya tahan tubuh anak tetap kuat.
dr. Mervin pun mengingatkan agar orangtua lebih peka dengan kondisi anak dan lingkungan sekitar.
“Jika positif segera lakukan pengobatan sehingga anak-anak terhindar dari TB. Selain itu, bagi anak yang sudah kontak dengan penderita TB mulailah lakukan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) agar anak tidak jadi sakit TB. Patuhilah cara mengkonsumsi obat dengan benar yakni dengan perut kosong dan konsumsi vitamin D, dan lakukan pola hidup sehat,” pesannya.
Kece People, kadang penyakit paling berbahaya justru datang dari hal yang terlihat biasa. Batuk lama, demam ringan, atau berat badan yang susah naik mungkin terdengar sepele. Tapi di tengah tingginya kasus TBC anak di Indonesia, kewaspadaan orangtua jadi garis pertahanan pertama yang paling penting.
