Home Uncategorized “Optimis Adipura, Tapi…” Suara Jujur Petugas Taman Banjarbaru

“Optimis Adipura, Tapi…” Suara Jujur Petugas Taman Banjarbaru

0
Banjarbaru optimis raih Adipura, tapi petugas taman Rizki (kanan) dan Abdi punya unek-unek. (FOTO: Abe)

Kece People, Banjarbaru lagi kejar satu hal yang nggak main-main: Adipura. Kota harus tetap bersih, taman harus tetap cantik, dan semuanya harus terlihat sempurna. Tapi di balik itu semua, ada cerita yang jarang muncul ke permukaan—tentang pasukan hijau yang diam-diam kerja ekstra, bahkan saat orang lain lagi istirahat.

Di tengah taman-taman kota yang tampak rapi dan segar, ada ritme kerja yang kadang berubah tanpa aba-aba. Bukan karena malas, tapi karena tuntutan yang datang tiba-tiba—terutama saat momen penilaian Adipura makin dekat.

Rizki, salah satu pasukan hijau, mengaku tetap optimis.

“Optimis!,” sontak jawabnya singkat. “Soalnya udah berapa kali menang loh, Alhamdulillah bagus aja gitu nah koordinatornya bagus dari atasan juga yang di bawah juga kami sebagai pekerja taman juga merasa nyaman mengerjakannya jadi kemungkinan Insya Allah menang lah,” sambungnya.

Optimisme itu bukan tanpa alasan. Banjarbaru memang punya rekam jejak yang kuat. Koordinasi dinilai solid, dari atasan sampai ke petugas lapangan.

Tapi Kece People, di balik kata “optimis”, ada jeda kecil yang menyimpan harapan.

Kerja Tambahan di Balik Piala

Rizki mulai membuka sisi lain yang jarang terlihat.

Ada momen ketika hari libur… tak lagi benar-benar libur.

“Maksudnya kan kami kan ditugaskan kadang-kadang tuh akhirnya malah hari yang sebenarnya kami harus harus libur atau ditambah jadi kayak ditambah lagi kerjaannya gitu kan, karena kan hari kerjaan kami kan biasanya sudah sudah selesai akhirnya kan gara-gara harus ada penilaian Adipura mau kada mau kerja di luar jadwal lagi,” ujar Rizki.

Kalimatnya sederhana, tapi maknanya dalam.

Ada tenaga ekstra. Ada waktu pribadi yang “terpakai”. Dan semua itu dilakukan demi satu nama: “Adipura”.

Bukan berarti mereka menolak. Tapi ada satu harapan kecil yang diselipkan.

“Cuma ya diperhatikan lah… maksud ulun tuh ya…,” pesannya pendek.

Perhatian. Itu saja.

Bukan Soal Gaji Saja

Ketika disinggung soal kesejahteraan, Rizki menjawab dengan realistis, bahwa setiap orang mana pun pasti ingin gaji naik, cuma yang perlu diperhatikan lagi kemampuan dari pemerintah daerahnya.

“Kalau dari segi kesejahterian seperti gaji, ya kalo keinginan naik, tapi ya tergantung pemerintah, karena semua tergantung kemapuan dari peemerintah,” ujarnya.

Nggak muluk-muluk.

Bukan tuntutan besar.

Tapi lebih ke pengakuan bahwa pekerjaan mereka… layak dihargai.

Optimis Itu Wajib, Kata Abdi

Di sisi lain, Abdi juga punya pandangan yang sejalan—optimis, tapi tetap membumi.

“Terkait Adipura, pertama optimis itu wajiblah, usaha dulu kan, optimis,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa perjuangan ini bukan hanya milik satu tim.

“Soalnya kami kada Perkim aja DLH juga, pasukan oren juga banyak membantu,” tandas Abdi.

Artinya, Adipura bukan sekadar penghargaan.

Ini kerja kolektif.

Kerja bareng.

Kece People, Adipura Itu Bukan Cuma Piala

Di balik taman yang hijau dan kota yang bersih, ada cerita tentang waktu yang dikorbankan, tenaga yang ditambah, dan harapan yang disimpan diam-diam.

Mereka tetap bekerja. Tetap optimis. Tetap menjaga kota ini sebaik mungkin.

Tapi satu hal yang mereka titipkan, tolong… jangan anggap mereka biasa saja.

Karena Banjarbaru yang bersih hari ini, ada karena mereka yang memilih untuk tetap peduli.

(red)

Facebook Comments Box
Exit mobile version