Home Banjarbaru Lagi Bersih-Bersih, Eh Disampahin! Kisah Pahit Petugas Taman Banjarbaru

Lagi Bersih-Bersih, Eh Disampahin! Kisah Pahit Petugas Taman Banjarbaru

0
Kisah nyata petugas kebersihan taman Banjarbaru, dari limbah makanan hingga pengalaman pahit di lapangan. (FOTO: Abe)

Kece People, pernah nggak sih kepikiran siapa yang diam-diam bikin taman kota tetap rapi dan enak dipandang? Di balik hijaunya taman dan bersihnya jalanan, ada cerita panjang dari petugas kebersihan taman alias pasukan hijau dari Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Kota Banjarbaru.

Di bawah lembutnya sinar matahari Jalan Panglima Batur pagi ini, Rizki—salah satu pasukan hijau—cerita santai, tapi dalam maknanya. Ia bukan orang lama dibidang ini. Baru sejak awal 2023 ia bergabung, setelah pandemi COVID-19 membuatnya harus merelakan pekerjaan sebelumnya.

“Awal 2023 lah masuk, gara-gara COVID kan berhenti kerja dulu, jadi melamar di sini,” ujarnya.

Sejak itu, hidupnya berubah. Setiap hari bukan cuma soal sapu dan daun kering, tapi tentang tanggung jawab menjaga wajah kota.

Hidup yang Terus “Rolling”, Dari Satu Sudut ke Sudut Lain

Kece People, jadi pasukan hijau itu nggak statis. Hari ini bisa di Banjarbaru Utara, besok pindah ke Selatan, lusa mungkin di wilayah Timur. Semua tergantung pembagian tim.

“Selalu di-rolling… dibagi beberapa kelompok, Banjarbaru Utara,ke wlayah Timur, Banjarbaru Selatan, kayak gitu lah,” kata Rizki.

Wilayah kerjanya pun nggak jauh dari jantung kota—Panglima Batur, Ahmad Yani, sampai Simpang 4. Tapi jangan kira itu ringan. Justru di titik-titik ramai itulah tantangan paling terasa.

Ketika Taman Jadi “Tempat Sampah Dadakan”

Nah, ini yang sering bikin pasukan hijau geleng-geleng kepala.

Area dekat rumah makan atau restoran jadi titik paling “rawan”. Bukan karena pengunjungnya ramai saja, tapi karena… sampahnya juga ikut “ramai”.

“Biasanya tuh kalau dekat rumah makan, ekstra bersihinnya. Soalnya kadang buang sampahnya malah ke tempat sampah taman,” ungkap Rizki.

Padahal, tempat sampah di taman itu bukan untuk limbah makanan. Tapi kenyataannya, nasi berserakan, plastik sobek, sisa makanan… semua bercampur di sana.

Dan yang kena dampaknya? Ya taman itu sendiri.

“Kami Ini Kaya Nggak Dianggap…”

Di balik pekerjaannya, ada rasa yang sering dipendam.

Rizki menyampaikan pesan sederhana, tapi dalam banget.

“Jangan buang sampah sembarangan lah… kadang kami kayak nggak dianggap, diremehkan gitu,” keluhnya.

Kalimat itu mungkin singkat. Tapi kalau dipikir-pikir, itu suara hati yang sering luput didengar.

Padahal mereka juga warga Banjarbaru. Sama-sama hidup di kota ini. Sama-sama ingin lingkungan bersih.

Dari Sampah Hingga Bangkai, Semua Pernah Dihadapi

Cerita lain datang dari Abdi, yang mulai bekerja sejak awal 2024. Pengalamannya? Jangan ditanya—“ulun tepur-putar sudah,” sahutnya saat ditanya pernah “bertugas” kemana aja.

Di Kota Banjarbaru pun ia sudah menyisir banyak titik seperti Jalan Panglima Batur, Ahmad Yani, Simpang 4, Batas Kota hingga Liang Anggang.

Tapi yang paling membekas bukan soal jarak… melainkan apa yang harus ia bersihkan.

“Pernah menangani mayat kucing… kalau sudah berhari-hari, busuk baunya,” ceritanya.

Bayangkan, Kece People. Saat orang lain memilih menjauh, mereka justru harus mendekat. Karena kalau tidak dibersihkan, bau dan kotorannya akan mengganggu semua orang.

Belum lagi limbah makanan.

“Takutnya tuh pas keangkat sobek plastiknya… nasi behambur,” katanya.

Padahal tugas utama mereka sebenarnya bukan itu—melainkan daun, rumput, dan sampah ringan. Tapi realita di lapangan sering berkata lain.

Harapan Sederhana: Saling Menghargai

Di tengah segala tantangan itu, harapan mereka ternyata sederhana banget.

“Jaga kebersihan aja lah, bersama lah,” kata Abdi.

Bahkan saat bekerja, mereka masih sering melihat orang buang sampah sembarangan di depan mata.

“Kadang dalam hati ya Allah… kaya itu banar ai,” ujar Abdi lirih.

Optimisme untuk Banjarbaru yang Lebih Bersih

Meski berat, semangat mereka tetap ada. Apalagi saat bicara soal Adipura—simbol kebanggaan kota bersih.

“Optimis itu wajiblah, usaha dulu kan,” kata Abdi.

Dan perjuangan ini bukan mereka sendiri. Ada juga pasukan oranye dari DLH yang turut membantu. Semua bergerak, satu tujuan yakni Banjarbaru yang lebih bersih dan nyaman.

Kece People, Ini Tentang Kita Semua

Kece People, setelah dengar cerita ini… rasanya sederhana tapi ngena, kebersihan kota bukan cuma tugas pasukan hijau dan pasukan oren.

Ini tentang kita semua.

Tentang bagaimana kita memperlakukan ruang publik. Tentang rasa hormat pada orang-orang yang bekerja diam-diam. Dan tentang pilihan kecil—buang sampah pada tempatnya atau tidak.

Karena pada akhirnya, kota yang bersih bukan cuma enak dilihat… tapi juga cerminan siapa kita.

(red)

Facebook Comments Box
Exit mobile version